Ketum MPSU Akan Somasi Pemberitaan Diduga Mengandung Unsur Fitnah Terhadap "RG" Yang Diduga Pelaku Penganiayaan -->

Iklan Semua Halaman

Jasa website

Ketum MPSU Akan Somasi Pemberitaan Diduga Mengandung Unsur Fitnah Terhadap "RG" Yang Diduga Pelaku Penganiayaan

Redaksi
Minggu, 12 April 2020
Terduga pelaku penganiayaan saat menunjukan surat pernyataan dari pihak keluarga korban

METROINDO.CO.ID | MEDAN - Pasca diberitakan oleh salah satu media online beberapa waktu yang lalu ternyata bertolak belakang dengan kenyataan nya, dan teerkesan berita tendensius serta mengangkangi UU Pers nomor 40 tahun 1999.

Dalam pemberitaan tersebut berjudul "Korban Penganiayaan Meninggal di RS Vina Estetica Medan, Warga Minta Polisi Tangkap Pelaku".

Dikatakan demikian karena almarhum A. Alvon Giawa diduga menjadi korban penganiayaan yang dilakukan olah RG yang merupakan abang sepupuh dari Almarhum sehingga menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Vina Estetica Jalan Iskanda Muda Medan, Sabtu (4/4) beberapa waktu yang lalu.

Diberitakan sebelumnya bahwa kematian korban bermula karena adu mulut dengan terduga pelaku RG di Warung Tuak Nias Jalan Sei Babolon Kelurahan Babura Kecamatan Medan Baru. pada Hari Jumat (3/4), sekira jam 22.00 Wib. Namun karena diduga tidak senang, terduga pelaku RG menarik tangan korban yang sedang duduk dekat pintu keluar, saat di tarik, korban langsung terjatuh dan kepala korban terbanting ke jalan hingga tidak sadarkan diri sesuai isi berita dari Media online tersebut.

Surat Pernyataan dari keluarga terduga pelaku penganiayaan

Tak terima dengan pemberitaan tersebut RG yang menjadi korban fitnah dari salah satu media online tersebut mencoba meminta perlindungan dengan salah satu Lembaga Sosial Control yang cukup vokal di Sumut yaitu MPSU (Masyarakat Perduli Sumatera Utara).

"Saya bermohon kepada MPSU untuk membantu saya dalam permasalah ini, dan saya tidak ada melakukan seperti apa yang diberitakan oleh Media Online tersebut," Jelas RG kepada Mulya Koto saat bermohon bantuan dengan Ketum MPSU.

RG juga menambahkan bahwa dirinya tidak ada melakukan dugaan penganiayaan yang diberitakan tersebut,  malah dirinya lah yang membawa dan membantu Almahum A. Alvon ke rumah sakit saat terjatuh saat di rangkul oleh RG untuk dibawak pulang ke rumah ketika dalam keadaan mabuk tersebut.

"Tak kuat aku merangkul almarhum pada saat itu, aku pun punya sakit gula bang,  sehingga Almarhum A. Alvon terjatuh dan mengalami benturan kecil," Beber RG.

Sementara itu Ketua Umum MPSU,  Mulya Koto mengatakan akan mensomasi media tersebut ,karena berita tersebut terkesan tendensius dan di duga mangandung fitnah.

"Korban RG tidak pernah dikonfirmasi oleh wartawan tersebut dan terkejut dengan isi pemberitaan itu," terang Mulya Koto. Minggu (12/4).

Dalam hal ini kami tidak melindungi pelaku tindak pidana, yang salah tetap salah bagi kami. "Lagi pula kalau ada warga yang keberatan dengan peristiwa tersebut silahkan melaporkan ke Aparat Kepolisian bukan malah membangun opini Publik," ujarnya.

MPSU sudah mendengar penjelasan dari RG melalui handphone seluler Sabtu (11/4), Sore sekitar jam 17.00 Wib.  Dalam komunikasi melalui handphone seluler tersebut terdengar jelas bahwa sudah ada kesepakatan antara RG dengan Ibu Kandung, Istri Abang Kandung, Saudara Kandung, Saudara Kandung, Anak Kandung Almarhum A. Alvon dan tertuang di Surat Pernyataan Keluarga yang telah disepakati pada tanggal (9 April 2020) dan sudah ditanda tangani diatas materai.

"Berdsarakan Kronologis meninggalnya Almarhum atasnama Apolonius Giawa pada hari Sabtu (4/4), di Medan, kami sekeluarga dan anak yang ditinggalkan oleh Almarhum, tidak menuduh ataupun mencurigai ataupun menuntut siapapun atas meninggalnya an. Apolonius Giawa bukanlah unsur pembunuhan atau yang diracuni dan sekeluarga telah mengiklaskan kepergiannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kami sekeluarga membuat surat penyataan ini dengan hati yang tulus dan pikiran yang sehat tanpa ada unsur paksaan ataupun pengaruh dari pihak siapapun. Apabila dikemudian hari ada yang menaruh keberatan atau menguggat pernyataan ini, akan menanggung segala resiko dan bersedia menjalankan hukum sesuai dengan pelanggaran hukum yang berlaku di NKRI," Jelas Mulya Koto sambil membacakan isi Surat Pernyataan Keluarga.

Mulya Koto meminta wartawan tersebut memberikan hak jawab RG sehingga berita itu berimbang dan tidak mengandung dugaan unsur fitnah.

"Saya berharap kepada wartawan Media Online yang memberitakan hal tersebut agar memberikan hak jawab oleh RG, agar berita tersebut berimbang dan agar tidak terjadi fitnah, sebelum kami akan melakukan upaya hukum," tegas Mulya Koto.

Mulya Koto juga berharap agar pihak Kepolisian tidak gegabah dalam menyimpulkan suatu pemberitaan yang diragukan kebenarannya.

"Saya juga bergarap agar pihak Kepolisian tidak gegabah dalam menyimpulkan sesuatu pemberitaan yang diragukan kebenarannya," harapnya. (Mulya/Hen)