Lima Kali Sidang dan Tiga Kali Batal, PN Labuhan Deli Tidak Transparan Diduga Jaksa dan Hakim Rekayasa Kasus -->

Iklan Semua Halaman

Jasa website

Lima Kali Sidang dan Tiga Kali Batal, PN Labuhan Deli Tidak Transparan Diduga Jaksa dan Hakim Rekayasa Kasus

Redaksi
Kamis, 12 Maret 2020
Legirin saat keluar dari ruang sidang

METROINDO.CO.ID | LABUHAN -

Sebagai pilar ke empat negara demokrasi, eksistensi pers dalam sebuah negara memainkan peran penting. Meskipun secara formal pers berada di luar sistem politik ketatanegaraan. Pers menyampaikan informasi kepada masyarakat, berperan sebagai sarana pendidikan, dan memberikan fungsi menghibur. Selain itu, pers juga berfungsi melakukan kontrol sosial dalam kehidupan bernegara. 

Mengingat peran dan fungsi yang demikian penting itulah, maka relasi antara Komisi Yudisial dan pers menjadi perlu terus dirawat.

Komisi Yudisial membutuhkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat, termasuk pers dalam menjalankan wewenang dan tugasnya. Hubungan 
yang sinergi perlu terus dibangun agar tercipta sinergi yang positif dan membangun. 

Terdakwa saat digiring ke Ruang sidang

Namun apa yang sudah digagas Komisi Yudisial nampaknya diduga tidak berarti bagi beberapa Oknum yang bertugas
Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Kelas 1- A, Jalan Asam Lorong,  Kelurahan Martubung , Kecamatan Medan Labuhan,  Kota Medan , Provinsi Sumatera Utara.

Dikatakan demikian diduga oknum Jaksa, Oknum Security, bahkan oknum yang membawa Legirin ke ruangan persidangan terkesan tertutup dan tidak transparan, sebab terkait kasus yang menimpa Legirin alias Rin Puntung yang menjadi tersangka dalam dugaan kasus cabul ini diduga tidak ada menghadirkan saksi dan korban. Rabu (11/3/2020).

Sarina Anak Terdakwa saat di PN Labuhandeli

Terkait kasus Legirin alias Rin Puntung disidangkan di Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Kelas 1- A, namun waktu persidangan itu akan dimulai tidak di ketahui oleh pihak keluarga Legirin. 

Sebagai sosial kontrol, Tim tim Media mencoba mencari tau kepastian nya di lokasi tempat Legirin di sidangkan. Dan hasilnya sangat mengejutkan, tepatnya pukul 16.10 Wib Legirin pun di keluarkan dari sel sebelum di sidangkan dan terjadilah perdebatan antara wartawan dan oknum hakim yang bakal menyidangkan kasus Legirin. 

Ada nada keras dan keberatan oleh oknum hakim dikarenakan wartawan mencoba mengambil gambar di dalam persidangan dan mencoba meminta izin dengan hakim. Tidak itu saja Oknum yang bertugas membawa Legirin pun terkesan koboy. Sebelum persidangan wartawan ingin mengambil dokumentasi didalam ruangan.

Sontak membuat oknum Hakim yang tidak di ketahui namanya bahkan wajahnya pun tak sempat di fhoto itu terkesan gugup dan membesarkan suaranya, sehingga disaksikan oleh beberapa tahanan yang bakal di sidangkan dan beberapa keluarga tahanan yang berkunjung 

"Kalau mau fhoto dia, silahkan datang tanggal 24 , hari ini dia tidak kami sidangkan," Cetus Oknum Hakim pada saat dipersidangan.

Pada saat wartawan bertanya kenapa Legirin dipanggil hari ini, dan kenapa disidangkan, tanya wartawan kepada oknum hakim tersebut. 

"Jadwal sidang nya hari ini, cuman ketua majelis nya tiba-tiba dipanggil pelatihan, kami tidak bisa buka sidangnya, silahkan kehumas saja," bantah Oknum Hakim tersebut.

Merasa tugas jurnalis nya dihalang-halangi untuk mengungkapkan fakta dan kebenaran kasus Legirin tersebut, sesuai UU Pers nomor 40 Tahun 1999, wartawan pun mencoba mengkonfirmasi ke Humas Kejaksaan Negeri Deli Serdang, tepatnya  di jalan Kejaksaan nomor 1 , Simpang Kantor Medan,  Labuhan Deli.

Namun lagi-lagi wartawan mendapatkan perlakuan yang kurang enak, kali ini dilakukan oknum security di Kejaksaan Negeri Deli Serdang yang di duga berinisial B, pasalnya wartawan mencoba mengkonfirmasi dan menjelaskan perdebatan antara oknum hakim dengan wartawan yang diarahkan ke Humas Kejaksaan Negeri Deli Serdang . 

Hampir cukup lama wartawan menunggu kehadiran humas Kejaksaan Negeri Deli Serdang, oknum Security tadi pun keluar dan wartawan pun mempertanyakan humas, namun oknum Security tersebut bernada keras sambil memukul meja dan mengatakan tidak berani memberikan komentar dan humas tidak ada. 

Karena wartawan merasa tidak puas dengan perlakuan oknum yang bertugas di Kejaksaan Negeri Deli Serdang wartawan pun mencoba mengkonfirmasi ke nomor pengaduan Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Kelas 1- A dengan nomor tertera  0812 - 6042 -4315 namun belum ada jawaban. 

Sementara. Sariana yang merupakan anak Legirin mengatakan bahwa kasus yang menimpa ayah nya sudah 5 kali sidang dan sama hari ini 3 kali batal. 

"Rumah kami jauh bang, kami tidak pernah menerima surat apapun dari  Kejaksaan Negeri Deli Serdang terkait proses hukum ini, malah saya di bentak-bentak oleh oknum yang bertugas di sini saat saya menanyakan tentang ayah saya," Ungkap Sariana saat keluar dari ruang sidang. 

Ditambahkannya bahwa kami sebagai keluarga nya Pak Legirin, tidak pernah melihat Korban di Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Kelas 1- A ini. 

Hingga berita ini diturunkan wartawan belum bisa mengambil keterangan dari Pihak Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Kelas 1- A dan Kejaksaan Negeri Deli Serdang dan sempat melihat Ibu korban di dekat area Sidang dan meninggalkan area ruangan sidang.

Sidang tidak jadi diputuskan karena ada spontanitas wartawan yang meginginkan kasus Legirin terungkap dan transparan, tanpa ada yang dirugikan baik pihak korban dan Legirin. 

"Mungkin kalau kami tidak hadir dan mengetahui sidang tersebut, kami menduga kasus Legirin sudah diputuskan,"Ungkap salah satu wartawan yang merasa aneh lihat sidang tersebut. (Mulya Koto/Hen)