Sutradara Ponti Gea Tayangkan Film Prawira Bulan Oktober di Bioskop -->

Iklan Semua Halaman

Jasa website

Sutradara Ponti Gea Tayangkan Film Prawira Bulan Oktober di Bioskop

Redaksi
Kamis, 11 Juli 2019
Foto: Ponti Gea Tengah membacakan/Dialog naskah Ekting
METROINDO.CO.ID | MEDAN - Bulan Oktober 2019 mendatang akan tayang film Prawira di Bioskop dengan dibintangi oleh Polisi Republik Indonesia dan Pemerintahan setempat.

Sutradara Sang Prawira Ponti Gea mengatakan, film yang rencananya berdurasi 100 menit itu bercerita tentang perjalanan seorang anak desa dari pinggiran Danau Toba yang bercita-cita jadi polisi. Selain melibatkan Ganjar Pranowo sebagai pemain, dirinya juga mengajak Bripka Herman Adi Basuki, operator PLD Sub Bagian Humas Polres Purworejo atau yang dikenal dengan Pak Bhabin Herman dalam akun Polisi Motret di akun Youtube.

"Kenapa kami melibatkan Bapak Gubernur Jateng, karena kami ingin menunjukkan kerjasama yang kuat antara kepolisian dengan pemerintah," ujarnya.

Ponti menambahkan, film itu menyuguhkan pergulatan sebuah keluarga di mana antara isteri dan suami tidak sepaham dalam merancang masa depan anaknya ketika anaknya duduk di bangku SMA.

Si Ibu, kata Ponti, ingin menuruti kemauan anaknya jadi polisi sementara si bapak lebih condong anaknya bekerja di luar negeri agar dapat menolong keuangan keluarga yang selama ini tergolong miskin.

Ide cerita film lahir dari para pejabat Utama Polda Sumut yang didukung oleh Wakapolda Sumut Brigjen Pol Mardiaz Kusin Dwihananto kemudian diperkaya oleh Kapoldasu Irjen Pol Agus Andrianto, terutama tentang sosok seorang polisi yang berani dan tangguh serta muatan pesan moral pedagogis (strategi pembelajaran) kepada masyarakat.

Film layar lebar ini selain menampilkan profesionalisme polisi dlm menjalankan tugas, juga memperkenalkan berbagai kultur masyarakat dan destinasi wisata serta membangun rasa nasionalisme.

Lokasi syuting mengambil 130 titik dan tersebar di beberapa daerah seperti Karo, Simalungun, Tobasa, humbahas Tanjung Balai, Sibolga, Nias, Medan, Semarang (Akpol) dan Jakarta (Mabes Polri).

Ponti mengaku sebagai pria berdarah suku Nias yang pernah mengenyam pendidikan dua tahun di Italia. Karya-karyanya antara lain Samadoni Tano (2011) , Anak Sasada (2011) dan Tanah Parsirangan (2012) , semuanya adalah film berbahasa daerah. Ia mengakui, keinginannya untuk memproduksi sebuah film agar bisa mengobati rasa kerinduan dan cintanya pada kamupung halaman serta memberikan pesan pesan moral, adat istiadat yang kerap dilanggar seiring berjalannya perkembangan zaman.(MI/Rendy)